Wednesday, May 25, 2016

Satu malam di Perth

Kisah Daun Maple, Bintang dan Sebuah Pilihan

Malam itu malam terakhir kami. Perancangan awalnya mahu ke Kings Park, tapi memandangkan waktu operasi city bus pun sudah berakhir kami melanjutkan terus ke Elizabeth Quay. Menikmati panorama malam bandar Perth sambil menyelusuri Swan River.

“Nanti ingatkan saya nak ambil daun maple untuk kenang-kenangan” pesan teman saya.

Saya menganguk, daun maple yang terlalu sinonim dengan musim luruh. Perlahan warnanya betukar dari hijau ke merah/kuning lalu gugur mengering.

Saat berjalan pulang ke hostel, saya mengutip satu daun maple kering untuk simpanan sendiri lalu mengingatkan kembali teman saya

“Kutiplah cepat daun maple akak, nanti akak lupa”
“Tak nak lah, saya nak cari yang lain. Kalau tak jumpa, esok masih ada” katanya

 “Ok fine, I’ll keep this one first” sambil menunjuk daun maple yang saya kutip.
“Saya simpan yang ini dulu sebab saya takut tak jumpa daun lain yang lebih baik” sambung saya lagi.

Saya tergelak sendiri lalu teringat akan sebuah kisah yang saya sendiri tak pasti ianya hanya satu dongeng atau pun cerita benar.

Kisah seorang lelaki yang bertanya pada gurunya perihal jodoh. Mendengar soalan anak murid tersebut, guru meminta anak muridnya ke padang lalu mencari daun yang paling cantik. Murid itu pun pergi, lalu mencari daun yang cantik di pandangan mata. Lepas satu, satu yang dijumpainya. Tapi tidak satupun yang di ambil kerana selalu mengharap mungkin ada yang lebih elok lagi di hadapan. Hingga tiba di hujung padang dia kembali dengan tangan kosong. Hampa mungkin!

Dia tergelak, sambil mengiyakan “Macam tu jugak dalam kehidupan. Banyak benda yang kita belajar, kena praktikan dalam kehidupan” katanya
“Jangan biarkan semua yang ada di depan mata berlalu pergi” sambungnya lagi. Rasa macam kena brainwash sekejab.

“Tak semua orang ada banyak pilihan akak” luah saya
“Semuaaa orang ada baaaanyak pilihan ijan!”

“Ramai orang ada banyak pilihan, tapi tak semua orang ada ada banyak pilihan”
Dua tiga kali saya ulang supaya hadam.
“Ramai orang ada banyak pilihan, tapi tak semua orang ada ada banyak pilihan.
Bintang-bintang di langit je yang banyak kak” saya merenung langit Perth yang penuh bintang.

“Bintang memang banyak, tapi bulan tetap juga satu!” ujarnya. Kami berdua terdiam dengan random thought masing-masing lalu tergelak besar memecah kesunyian malam.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dan malam itu sebelum tidur, saya termenung panjang. Memikirkan kembali perbualan kami, tentang hal-hal seputar hidup.

Kalau bintang tu banyak, bulan tu tetap satu
Kalau pilihan tu banyak, kenapa masih memilih yang satu?



No comments: