Thursday, August 20, 2015

Anadolu le mémoire #3



Bas yang kami naiki untuk ke Bursa bertolak sedikit lewat dari waktu perjalanan asalnya. Risau benar jikalau bas itu tidak muncul kerana tiada alternatif lain untuk kami sampai ke Bursa melainkan dengan menaiki bas.

Ada seorang penumpang yang begitu menarik perhatian saya. Lelaki tua lingkungan 50-an. Dia berkongsi tempat duduk di barisan hadapan bersama dua orang anaknya. Seorang remaja lelaki belasan tahun, seorang lagi anak lelaki kelainan upaya. Tak pasti autism ataupun apa.

Sesekali dia duduk mencangkung di lantai bas berlapikkan kertas surat khabar. Sesekali dia berdiri sambil bersandar di kerusi baris hadapan. Lenguh barangkali, dia kembali duduk berkongsi tempat duduk dengan dua lagi anaknya tadi.

Entah kenapa masa terasa begitu perlahan, perjalanan empat jam itu seakan terlalu lama untuk kami. Sesekali anaknya menawarkan tempat duduk. Laju sahaja dia menolak sambil bertutur dalam bahasa Turki. Satu saat mungkin dia terlalu letih sehingga tidak mampu lagi menolak apabila ditawarkan tempat duduk oleh seorang lelaki yang duduk sebaris dengan mereka.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tak dapat saya bayangkan bagaimana dia menempuh perjalanan yang memakan masa hampir 4 ke 5 jam itu. Allah besarnya pengorbanan seorang ayah. Sejujurnya saya sedikit emosi, teringat arwah ayah yang telah pergi hampir setahun yang lalu. Sungguh kita yang selalu terlupakan perihal sosok tubuh ini. Yang mengorbankan masa mudanya membanting tulang untuk melihat anak-anak dan keluarganya bahagia.

Sungguh petang itu fikiran saya melayang jauh.
Tengelam dalam emosi sendiri.